Carigin | Jurnalissatu – Upaya melestarikan budaya dan tradisi leluhur terus dilakukan oleh keluarga besar SDN Cinagara 2, Desa Cinagara Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Salah satunya melalui kegiatan Rebowakasan yang setiap tahun dilaksanakan dan diikuti oleh ratusan siswa-siswi.
Kegiatan Rebowakasan tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda sejak usia sekolah.
Di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya pengaruh budaya modern, pihak sekolah bersama komite sekolah berupaya agar para siswa tidak melupakan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antara siswa, guru, komite sekolah dan masyarakat sekitar.
Ketua Komite SDN Cinagara 2, Ujang Saepulloh, mengatakan, pelaksanaan Rebowakasan merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan budaya yang selama ini hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, generasi muda perlu diberikan pemahaman mengenai berbagai tradisi yang diwariskan oleh orang tua dan para leluhur. Hal tersebut penting agar perkembangan zaman tidak membuat anak-anak kehilangan jati diri dan melupakan akar budaya daerahnya.
“Kegiatan Rebowakasan ini setiap tahun kami laksanakan. Tujuannya salah satunya untuk mengenalkan budaya dan kebiasaan para leluhur kepada anak-anak, sehingga mereka tidak melupakan tradisi yang sudah ada sejak dahulu,” ujar Ujang Saepulloh, Rabu (12/8/2026).
Ia menambahkan, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pelajaran akademik, tetapi juga bagaimana anak-anak memahami lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tumbuh.
Dengan adanya kegiatan seperti Rebowakasan, siswa dapat belajar secara langsung mengenai tradisi masyarakat. Mereka juga dapat memahami bahwa kebudayaan lokal merupakan bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ujang berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan dan mendapat dukungan dari seluruh pihak.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Dibutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, masyarakat serta para tokoh budaya agar tradisi yang telah diwariskan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Kami berharap anak-anak sebagai generasi penerus bisa mengetahui dan memahami budaya leluhurnya. Jangan sampai karena perkembangan zaman, budaya yang sudah diwariskan justru hilang. Kalau bukan kita yang mengenalkan kepada anak-anak, siapa lagi yang akan meneruskannya,” katanya.
Sementara itu, kegiatan Rebowakasan yang diikuti ratusan siswa-siswi tersebut berlangsung dengan penuh kebersamaan. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran di luar kelas. Para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari buku pelajaran, tetapi juga belajar mengenal nilai-nilai kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Pelaksanaan Rebowakasan di SDN Cinagara 2 diharapkan dapat menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui lingkungan pendidikan. Dengan melibatkan anak-anak secara langsung, nilai-nilai budaya dapat diperkenalkan sejak dini sehingga lebih mudah diterima dan dipahami.
Tradisi yang diwariskan leluhur, kata Ujang, bukan hanya sekadar kegiatan tahunan, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, gotong royong dan penghormatan terhadap warisan budaya masyarakat.
Karena itu, kegiatan Rebowakasan di SDN Cinagara 2 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi budaya, sehingga tradisi lokal tetap hidup dan dapat diteruskan oleh generasi muda di masa mendatang.
Dengan semangat menjaga warisan leluhur, keluarga besar SDN Cinagara 2 berkomitmen untuk terus memberikan ruang kepada para siswa dalam mengenal, memahami dan menghargai budaya yang ada di lingkungan mereka.
Pelestarian budaya sejak usia sekolah menjadi langkah penting agar generasi muda tetap maju mengikuti perkembangan zaman, namun tidak kehilangan jati diri dan akar budayanya. Yudi





























































