Kota Bogor | Jurnalissatunews – Regenerasi kepemimpinan dalam pelestarian seni dan budaya Sunda mulai memasuki babak baru. Pemuda asal Kota Bogor, Hizriyanda Putra, resmi mendapat mandat sebagai Ketua Harian Yayasan Palataran Pakujajar Sipatahunan (YPPS) untuk periode 2026–2031.
Penunjukan tersebut dilakukan langsung oleh Wirabratha Arifin, putra kandung almarhumah Tien Rostini Asikin atau yang dikenal dengan sapaan Ma Ageung, pada Oktober 2026.
Hizriyanda merupakan bagian dari keluarga besar Ma Ageung yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia seni dan budaya Sunda. Amanah tersebut sekaligus menjadi estafet untuk melanjutkan perjuangan dan warisan kebudayaan yang telah dibangun Ma Ageung, sosok seniwati serba bisa yang dikenal sebagai maestro seni tradisi dan pencak silat.
Semasa hidupnya, Ma Ageung turut membawa kesenian Indonesia ke panggung internasional, termasuk meraih prestasi dalam ajang seni di Brussel, Belgia.
Mengemban tanggung jawab tersebut, Hizriyanda membawa gagasan baru melalui program strategis bertajuk Gelar Pamor Pesona Tradisi “Sunda” Nusantara Dunia.
Program ini diarahkan untuk menjadikan seni dan budaya tradisional tidak sekadar sebagai warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang terus berkembang dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
Menurut gagasan yang diusung, kebudayaan harus memiliki tiga fungsi sekaligus, yakni sebagai sarana hiburan, media edukasi, serta potensi pengembangan ekonomi kreatif.
Selain memperkuat akar budaya lokal, YPPS juga diarahkan untuk membuka ruang kolaborasi lintas generasi dan lintas negara melalui pertunjukan seni, kegiatan edukasi, serta dokumentasi berbasis digital.
Mengusung Filosofi Budaya dan Kehormatan
Di bawah kepemimpinan Hizriyanda, YPPS mengusung tagline baru, yakni “Ti Titinggal Karuhun, Ngagelarkeun Kaendahan, Ngawariskeun Kahormatan”.
Tagline tersebut memiliki makna bahwa warisan leluhur harus terus dihidupkan melalui karya dan keindahan budaya, sekaligus menjadi jalan untuk mewariskan kehormatan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, program utamanya membawa semangat “Ngamumule Budaya, Ngahirupkeun Tradisi, Ngamancarkeun Pesona Nusantara ka Dunya!”
Nama Palataran Pakujajar Sipatahunan juga memiliki filosofi tersendiri. Palataran dimaknai sebagai ruang terbuka untuk interaksi dan pertemuan lintas generasi. Pakujajar menjadi simbol tonggak yang menjaga keseimbangan, sedangkan Sipatahunan menggambarkan kesetiaan dan keteguhan nilai yang tidak lekang oleh waktu.
Siapkan Beragam Program Kesenian
Untuk mewujudkan visi tersebut, YPPS menyiapkan sejumlah program yang dikemas melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan kreatif.
Program tersebut meliputi Pamor Rutin berupa latihan dan panggung komunitas, Pamor Edukasi melalui lokakarya bersama para maestro, serta Pamor Festival sebagai ruang pertunjukan dan gelar karya tahunan.
Sejumlah kesenian tradisional yang menjadi perhatian di antaranya Rampak Sekar, Rampak Degung, Jaipongan, Seni Ibing Pencak Silat Tradisi, Rampak Kendang, Teater Rakyat, Seni Tutur, hingga Wayang Sunda.
Melalui berbagai program tersebut, YPPS berharap dapat membangun ekosistem kebudayaan yang melibatkan generasi muda sekaligus memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk terus berkarya.
Kepemimpinan Hizriyanda Putra diharapkan menjadi momentum regenerasi dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Sunda.
Semangat yang diusung adalah menjadikan budaya sebagai akar pembangunan masa depan, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada masyarakat dunia.
“Dari akar budaya, kita bangun masa depan. Dari Nusantara, kita hadir untuk dunia,” menjadi semangat yang diusung dalam perjalanan baru Yayasan Palataran Pakujajar Sipatahunan.




























































